Alkapuccino’s Blog

Just another Friendster Blogs weblog

Sebatas Teman Curhat

Sebatas Teman Curhat

Cipt : Kodri Alkap Or Alkapuccino

intro :  D  BM A A

D               BM             A                A
Malam ini … aku ingin…. sendiri dulu….
tak perlu engkau… telpon aku…. SMS aku….

Reff :
D                                BM
Karna ku Ingin Sendiri dulu
G                                        A
Tenangkan hatiku yang mencintaimu
D                                   BM
tak sadar ku mulai menyukaimu
G                                   A                            D   BM A A
meskipun kuhanya sebatas…. teman curhatmu…

#
D BM A A
pedih nian … hati ini…. melihatmu….
bahagia…. berdua… dengan pacarmu….
D BM A A
jadi malam ini… aku ingin…. sendiri dulu….
tak perlu engkau… telpon aku … sms aku…

(back to reff 2 kali)

BALADA SEMUT-SEMUT HITAM

BALADA SEMUT-SEMUT HITAM

Lihatlah semut-semut hitam yang merangkak ditanah

susah payah dia berjalan menuju pepohonan

untuk membuat sarang untuk masa depannya

cerah di masa depannya kelak

Lihatlah semut-semut hitam yang masih merangkah di pepohonan

dengan sekuat tenaga dia menuju keatas sana

untuk menari dengan riak dedaunan tertiup angin

demi mendapatkan indah kala berkeluarga

Mampukah kamu untuk membantunya ?

supaya dia bisa cepat menuju ke atas sana

supaya bisa ikut menari dengan dedaunan

di surgawi dunia yang indah

tapi…

semut adalah semut

mereka takut digigit oleh semut

mereka anggap semut adalah hama

yang hanya merusak citranya dilantai dansa

sehingga semut adalah makhluk tak berharga

seringkali dianggap sebelah mata

dan semut itu adalah aku dan sebagian teman-temanku

(Kodri Alkap-13-11-2009)

* Puisi untuk sahabatku, berjuang ya, berikan yang terbaik, jalani dengan ikhlas dan jujur

MAUT

MAUT

Diakan datang…

dia akan mengucapkan selamat datang

tak bisa untuk di tantang

tak bisa untuk di hadang

walau besi dan emas sebagai kandang

Dia pasti datang…

pejamkan mata, telungkupkan tangan

dan kita akan mimpi panjang

melangkah padang-padang

dua arah telah menghadang

kita tak bisa memilih salah satu

semua telah terpampang dari duniamu

Diakan datang…

dengan senyum yang mengembang

atau !!!

wajah yang menyeramkan.

(Kodri Alkap)

Elegi Bidadari

Elegi Bidadari

jangan kau tangisi lagi

kisahmu yang telah terlewati

ku telah didisini menemani

mencintai dengan sepenuh hati.

ku bantu kau untuk mencabut duri

yang selama ini menusuk di sanubari

agar kau mampu mimpi indah malam ini

tersenyumlah engkau sang bidadari.

karna esok mentari kan menyinari

bumi yang indah ini

ku ingin kau berani berdiri

hadapi kenyataan hidup ini

aku kan selalu di sisi

mendampingimu sepanjang hari

nikmati hari ini

karna sore nanti kau akan pergi

bersama mentari.

(Kodri Alkap)

ó02-11-2009ó

Terima Kasih

Sang Jilbab Putih (puisi)

Sang Jilbab Putih

senyummu menuangkan madu didalam hati

tutur sapamu mengajakku untuk peduli

setiap langkahmu menebarkan wangi surgawi

matamu memancarkan keyakinan diri

serta jilbab putih yang mampu meneduhi

dalam menjalani hidup ini

sementara aku hanya hamba Illahi

yang jatuh hati pada sang si jilbab putih

kupaksa mataku untuk mencuri menatap karunia Illahi

meskipun kau bukan muhrim

ku paksa untuk merubah diri

agar terbaik di mata sang jilbab putih

tak bisa ku ingkari….

sangat jauh… aku kuasai ajaran para nabi

tapi ku mencoba untuk mempelajari

agar ku bisa mendapat hati sang jilbab putih

(Kodri Alkap)

ó 02-11-2009ó

Terima Kasih

LOVE MOTHER (Balada Hidup Mbah Sri)

LOVE MOTHER
(Balada Hidup Mbah Sri)

Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 12.05 menit. Suasana di luar kantor lumayan panas, matahari bersinar dengan teriknya. Andri keluar dari kantornya untuk makan siang. Kebetulan tempat biasa dia makan berada di belakang kantornya. Dan kantornya berada di salah satu gedung apartemen yang berada di salah satu kawasan elit di Jakarta Selatan. Tanpa menghiraukan terik sinar matahari, Andri keluar juga dari kantor dan menuju ke salah satu rumah makan yang berjejer di belakang kantor.
Setengah jam kemudian, setelah selesai makan Andri keluar dari rumah makan dan kembali menuju kekantornya. Keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya, selain perut sudah kenyang panasnya matahari menambah keringat mengalir deras ditubuhnya. Saat mau menuju ke gedung tempat dia bekerja, tiba-tiba dari belakangnya terdengar mobil berdecit dan “Brakkk”, orang yang melihat langsung berteriak. Andri langsung berbalik dan melihat seorang ibu tua yang biasa mangkal dekat masjid berjualan gorengan dan pecel tergeletak di depan mobil.
Andri langsung berlari ke arah ibu tua yang tertabrak mobil itu dan mencoba menyadarkannya. Dengan di Bantu beberapa orang disana Andri mengangkat tubuh ibu tua yang badannya lumayan besar itu ke pinggir dan tempat teduh. Beberapa orang yang lain mencoba memungut bakwan dan tempe goreng jualan ibu tua itu. Sambal pecel yang buat pecel dia berjualan nampak berceceran di jalan.
Dari kepala ibu tua itu nampak darah mengalir membasahi keningnya. Ditambah panas matahari yang menyengat jadi darah yang keluar itu tidak mau berhenti. Selang beberapa menit kemudian keluar cewek seksi dari dalam mobil sedan mercy itu. Semua mata tertuju kearah perempuan seksi itu. Siapa yang tidak kenal dengan perempuan cantik dan seksi itu. Dia adalah model sekaligus artis pemain film yang namanya lagi naik daun saat ini. Namanya Luna artis yang blasteran Indonesia-Inggris itu mendekati kerumunan orang yang sedang membantu ibu tua itu.
“Sudah mas mari kita bawa ke rumah sakit saja”. Ujar Luna sambil berbicara ke arah Andri yang bajunya sudah penuh dengan darah.
“Baik mbak, pak tolong Bantu saya mengangkat ibu ini kedalam mobil”. Ujar Andri sambil di Bantu beberapa orang disana.
“Mas bisa sekalian ikut sebentar nggak mas ke rumah sakitnya”. Ujar Luna berbicara dengan Andri.
“Baik mbak”. Ujar Andri langsung masuk ke dalam mobil sambil memegang tubuh ibu tua itu.
Dengan cepatnya Luna membawa mobilnya kearah rumah sakit yang tidak jauh dari apartemen itu. Dengan waktu kurang lebih lima menit dia sudah sampai ke rumah sakit. Para suster berdatangan sambil membawa kereta dorong buat pasiennya. Sementara Andri berjalan mengikuti ibu tua itu yang masih pingsan. Sementara Luna memarkirkan mobilnya ke tempat parkiran. Setelah ibu tua itu masuk ke ruang gawat darurat, selang beberapa menit kemudian, Luna datang dari luar dan menuju kearah Andri yang duduk di kursi di luar pintu gawat darurat itu.
“Bagaimana mas keadaan ibu itu ?”. Tanya Luna
“Masih di periksa sama dokter mbak”. Jawab Andri
“Maaf nama mas siapa?”. Tanya Luna lagi sambil mengulurkan tangannya
“Saya Andri mbak”. Jawab Andri sambil menyambut tangan Luna yang lembut itu.
“Saya…”
“Luna!”. Ujar Andri sambil memotong pembicaraan Luna.
“Mas Andri sudah tahu?”
“Siapa yang tidak kenal dengan mbak Luna yang cantik ini”. Ujar Andri tersipu
“Mas Andri bisa saja. Gini mas Andri saya bisa minta tolong nggak mas?”. Ujar Luna langsung duduk di sebelah Andri.
“Insya Allah mbak, mbak Luna minta tolong apa?”. Tanya Andri.
“Begini mas Andri saya hari ini ada shooting, jadi saya minta tolong sama mas Andri untuk menjaga ibu yang saya tabrak tadi. Masalah biaya saya yang tanggung semua. Ini mas Andri tolong pegang uangnya”. Ujar Luna sambil menyerahkan uang ketangan Andri.
“Tapi mbak, saya bukan familinya ibu itu”. Jawab Andri agak ragu.
“Saya percaya mas Andri orang yang baik dan jujur, untuk itu saya berani menyerahkan uang ini kepada mas Andri, kalau nanti uangnya kurang mas Andri bisa telpon ke nomor saya ini”. Ujar Luna sambil menyerahkan sebuah kartu namanya ke Andri.
“Baik mbak, insya Allah saya jagain. Tapi mbak Luna kalau bisa sering kesini juga, karna saya juga sibuk kerja dikantor”. Ujar Andri.
“Baik mas, nanti kalau saya ada waktu luang saya akan datang ke rumah sakit untuk menjenguk ibu itu. Tapi sekarang saya harus pergi dulu, karna saya ada shooting dan saya sudah terlambat. Saya minta tolong sama mas Andri, tolong jaga ibu itu. Saya pergi dulu mas ya”. Ujar Luna langsung berdiri dan bergegas keluar dari tempat itu.
Sementara Andri kebingungan harus berbuat apa dulu. Dia langsung mengeluarkan handphone dari saku celananya dan menelpon bosnya untuk memberitahukan agak telat masuk. Dan syukurnya, bosnya melihat kejadian itu dan pesan kalau sudah selesai Andri kembali ke kantor lagi. Setelah selesai menelpon bosnya, dari ruang UGD keluar seorang dokter. Andri langsung mendekati dokter itu.
“Bagaimana dok keadaan ibu itu?”. Tanya Andri
“Tenang saja pak ibu itu tidak apa-apa, hanya luka sedikit dikepalanya. Biarkan saja dia istirahat dahulu. Nanti akan kita pindahkan ke ruang istirahat. Bapak siapanya ibu itu?”. Tanya dokter itu.
“Saya bukan siapa-siapanya ibu itu pak, kebetulan saya berada di dekat kejadian waktu ibu itu di tabrak”. Jawab Andri.
“Oh ya, wah hebat orang seperti bapak ini masih ada di Jakarta. Baik nanti bapak bisa di sampaikan saja kekeluarganya, sekalian mengurusi biayanya ya pak”. Ujar dokter itu.
“Baik pak, masalah biaya nanti saya akan urus”. Jawab Andri.
“Baiklah kalau begitu saya permisi dulu, masih ada pasien lain yang harus saya temui”. Ujar dokter itu.
“Baik dok, terima kasih atas bantuannya”.
“Sama-sama”. Ujar dokter itu langsung berlalu dari tempat itu.
Andri langsung menuju keruang administrasi untuk membayar keperluan pengobatan ibu itu. Setelah selesai semua di bayar dia menuju ke ruangan dimana ibu tua itu sudah dipindahkan keruang istirahat. Nampak ibu itu sudah siuman dan nampak lemah diatas ranjang itu. Andri mendekati ibu tua itu dan dengan tersenyum dia mendekati ibu itu dan duduk disebelahnya.
“Terima kasih nak sudah bantuin mbah”. Ujar ibu tua itu.
“Sama-sama mbah, mbah sekarang istirahat saja dulu ya. Jangan mikir yang macam-macam dulu. Masalah biaya rumah sakit sudah saya lunasi”. Ujar Andri.
“Terima kasih nak. Mbah tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan nak Andri ini”. Jawab ibu tua itu sambil menangis.
“Mbah… yang bayar uang rumah sakit bukan saya, tapi orang yang nabrak mbah itu yang menyerahkan uang kepada saya. Karna dia lagi sibuk dia minta Bantu saya untuk melakukan pembayaran rumah sakit mbah ini”. Ujar Andri sambil mengambil tisu dan mengelap air mata yang mengalir di pipinya.
“Melihat wajah nak Andri ini, saya teringat akan anak laki-laki saya, mungkin umurnya sama seperti nak Andri”. Ujar ibu itu
“Mbah punya anak laki seumuran saya mbah?”. Tanya Andri
“Iya, namanya Billy, tapi saya tidak tahu bagaimana keadaan dia sekarang”. Ujar ibu tua itu masih meneteskan air mata.
“Ya sudah, sekarang mbah istirahat dulu ya. Nanti sakitnya tambah lagi”. Ujar Andri sambil menenangkan ibu tua itu.
Si ibu tua itu mengangguk dan menenangkan dirinya. Andri langsung menarik selimut dan menyelimuti tubuh tua itu. Setelah ibu tua itu istirahat, Andri berbicara dengan salah seorang suster yang jaga di rumah sakit itu dan minta tolong dijagain ibu tua itu. Karna dia akan kembali kekantor dan sore nanti dia akan datang lagi ke rumah sakit untuk menjenguk ibu itu lagi.
Andri keluar dari rumah sakit itu dan menuju kekantornya yang tidak jauh dari rumah sakit itu dengan berjalan kaki. Kasihan ibu tua itu pikirnya, dia harus mencari kemana keluarganya. Sementara dia tidak tahu betul daerah sini. Ibu itu bilang dia punya anak seumuran dia, tapi dia tidak tahu dimana anaknya itu berada. Sekarang umurnya mau 30 tahun. Berarti anaknya sekitar 30 tahun juga umurnya, tega sekali anaknya meninggalkan ibunya yang sudah tua itu hidup sendirian pikir Andri. Tapi mungkin anaknya itu pergi juga kemungkinan ingin merubah nasibnya. Setelah sampai dikantor dia langsung duduk di mejanya. Teman sekantornya pada mendekati menayakan keadaan ibu itu. Meski badannya capek, Andri mencoba menjelaskan kepada teman-teman kantornya itu.
Karna melihat bajunya yang masih ada ceceran darah Andri menuju ke toilet untuk membersihkan tubuhnya. Setelah membersihkan tubuhnya dia kembali kemejanya dan menyelesaikan pekerjaannya. Jam di tangannya menujukkan pukul lima sore, Semua pekerjaan hari ini telah selesai is kerjakan karna besok dia akan libur dan baru masuk hari senen. Sebab besok hari jumat tanggal merah. Jadi orang kantoran akan libur tiga hari. Setelah membereskan mejanya dia mengambil tasnya dan keluar dari kantor menuju ke parkiran motor untuk mengambil motornya.
Suasana sore hari yang cerah, Andri membawa motornya menuju ke rumah sakit tempat ibu tua itu berada. Nampak jalanan raya didepan rumah sakit itu di hiasi kemacetan orang-orang yang pada pulang kantor. Andri langsung menuju ke pelataran parkir yang ada di basement rumah sakit itu. Setelah memarkirkan motornya dia langsung menuju ke ruangan tempat mbah Sri, ibu tua yang tertabrak tadi siang.
Saat sampai didepan ruangan mbah Sri, dia langsung masuk. Nampak mbah Sri lagi makan di suapin seorang suster yang cantik memakai jilbab. Setelah meletakkan tasnya di ujung ruangan itu, dia menghampiri mbah Sri yang lagi makan.
“Bagaimana sus keadaan mbah Sri?”. Tanya Andri
“Badannya sudah baikan, Cuma masih lemah saja. Mungkin karna faktor fisiknya yang sudah tua saja pak”. Jawab suster itu.
“Mbah, bagaimana mbah enakan badannya? Atau masih ada yang sakit mbah?”. Tanya Andri sama mbah Sri.
“Sudah nak Andri, Cuma kepala mbah saja yang masih pusing”. Jawan mbah Sri.
“Oh ya pak, nanti ada yang mau saya sampaikan ke bapak, apa bisa kita bicarakan diluar saja pak ?”. ujar suter itu.
“Baik sus, mbah saya keluar sebentar. Mbah istirahat saja dulu, nanti saya masuk lagi ke dalam sini”. Ujar Andri dan hanya di jawab oleh mbah Sri dengan anggukkan.
Andri langsung menuju keluar ruangan dan di susul oleh suster itu. Setelah berada di luar dia langsung duduk disalah satu kursi, selang beberapa menit kemudian suster itu membuka lembaran kertas yang di bawahnya.
“Begini pak, saya menyampaikan pesan dari dokter. Tadi siang ibu Sri tiba-tiba sesak nafas. Saat di periksa oleh dokter, ternyata ibu Sri juga mengalami penyakit lain”. Ujar suster itu sambil menarik nafas.
“Memangnya sakit apa sus?”. Andri langsung menoleh kea rah suster yang duduk disebelahnya itu.
“Kata dokter, ibu Sri juga terkena penyakit jantung. Jadi tolong hati-hati jangan sampai dia terbawa emosi. Karna itu akan memancing jantungnya menjadi kumat”. Ujar suster itu
Lalu suster itu menunjukkan isi kertas yang di bawanya. Mereka berdua sibuk membicarakan masalah mbah Sri sampai beberapa menit kemudian Andri berdiri dari duduknya dan masuk ke dalam ruangan itu. Mbah Sri masih terkulai lemah, wajahnya masih pucat.
Suara adzan maghrib berkumandang di televisi. Andri pamit sama mbah Sri mau shalat ke masjid sebentar. Sesampainya di masjid dia langsung shalat maghrib. Setelah selesai shalat maghrib dia menuju kekantin rumah sakit itu untuk mengisi perutnya. Nampak tempat kantinnya sangat ramai. Ada satu meja kursi yang kosong di meja yang pojok. Dia langsung duduk di kursi itu.
“Pak Andri”. Ujar perempuan yang duduk disebelahnya.
“Oh suster…”. Dia tidak tahu namanya.
“Saya Anna pak Andri”. Ujar suster itu mengulurkan tangannya.
“Jangan panggil saya pak sus, panggil nama saya saja. Umur kita saya rasa tidak beda jauh”. Ujar Andri
“Baik mas Andri”. Ujar suster Anna.
“Sudah pesan makanan?”. Tanya Andri
“Sudah mas, mas mau pesan makan apa”. Tanya suster Anna.
“Nasi goreng saja yang gampangan”. Jawab Andri sambil langsung memesan kepada ibu yang jaga kantin itu. “Kamu tinggal dimana?”. Tanya Andri
“Bintaro mas, tapi bukan di kompleknya”. Jawab suster Anna sambil tersenyum.
“Berarti dekat dong dengan saya, saya daerah Ciledug”. Ujar Andri sambil memandang wajah suster Anna yang anggun itu.
“Mas Andri belum pulang?”. Tanya suster Anna.
“Saya sepertinya menginap dulu di sini, kasihan mbah Sri tidak ada yang jaga”.
“Kalo mas Andri mau pulang tidak pa-pa mas, kebetulan saya jaga sampai pagi karna ada suster yang jaga sampai pagi tidak masuk. Dia minta tolong saya yang gantiin”. Ujar Anna.
“Tidak pa-pa, kebetulan besok saya libur panjang. Bagaimana kalau besok pagi kita pulang bareng, mau”. Ajak Andri.
“Boleh, bawa helm ga?”. Tanya suster Anna.
“Ada di motor, kebetulan tiap hari saya bawa, soalnya kalau berangkat ke kantor saya sekalian nganterin adik saya yang kuliah”. Ujar Andri.
Pembicaraan mereka terhenti karna pesanan makanan mereka datang. Karna suara perutnya yang sangat lapar. Andri makan dengan lahapnya. Setelah selesai makan mereka berdua kembali ke dalam lagi. Andri menuju ke ruangan mbah Sri di rawat. Mbah Sri tersenyum melihat ke arah Andri. Andri langsung menyapa seorang perempuan yang duduk di sebelah ranjang mbah Sri. Perempuan itu berumur sekitar diatas 30 tahun. Lebih tua sedikit dari Andri.
“Nak Andri, kenalkan, ini Susi yang merawat mbah selama di sini”. Ujar mbah Sri. Andri langsung menyalami ibu itu yang ternyata bernama Susi.
“Terima kasih mas sudah membantu ibu. Saya baru tahu kejadiannya tadi sore, ada tetangga saya yang mengabarkan ke saya”. Jawab ibu Susi.
“Nak Andri sangat capek sepertinya, kalau nak Andri mau pulang tidak pa-pa. biar Susi saja yang jagain mbah”. Ujar mbah Sri.
“Tidak pa-pa mbah, kebetulan saya ada janji dengan teman untuk pulang bareng besok pagi. Jadi saya nanti jaga di luar saja mbah”. Ujar Andri.
“Terus masalah biaya rumah sakitnya gimana mas?”. Tanya ibu Susi kepada Andri.
“Mbak Susi janga khawatir, semuanya sudah saya lunasi. Tadi uangnya sudah di berikan orang yang nabrak mbah Sri, kalau nantinya kurang, mbak Susi bisa menghubungi orangnya”. Ujar Andri.
“Memangnya yang nabrak ibu siapa mas?”. Tanya ibu Susi.
“Mbak pasti kenal, namanya Luna mbak, artis itu…”.
“Luna!!!”. Ujar mbah Sri langsung mendadak memegang dadanya. Kontan saja Andri dan mbak Susi kebingungan. Andri langsung memanggil suster Anna yang kebetulan jaga. Bersama dokter, suster Anna langsung masuk keruangan itu. Sementara Andri dan mbak Susi di minta menunggu di luar.
Selang beberapa menit kemudian, dokter dan suster Anna keluar. Andri dan mbak Susi langsung mendekati dokter dan suster Anna.
“Bagaimana dok kabarnya mbah Sri?”. Tanya Andri.
“Tidak pa-pa pak, ibu Sri sudah baikan, hanya jantungnnya saja yang masih lemah. Sekarang dia lagi istirahat. Sebaiknya yang jaga di dalam satu orang saja. Sekarang sudah saya suntik untuk dia bisa istirahat”. Ujar dokter itu langsung pamit. Sementara Andri langsung melirik suster Anna yang tersenyum manis melewati tubuhnya yang terpaku akan kecantikan wanita didepannya itu. ‘Tuhan… apakah ini yang dinamakan cinta???’, ujar Andri dalam hatinya.
“Mas Andri…”. Ujar mbak Susi menyadarkan Andri dari lamunannya.
“Oh iya mbak, ada apa?”. Ujar andri jadi gelagapan.
“Mbak mau nanya, apa benar yang nabrak ibu itu non Luna?”. Tanya ibu Susi.
“Non Luna, kok mbak Susi manggilnya Non mbak?”. Tanya Andri seperti ada yang aneh dari ucapan mbak Susi.
“Sebenarnya ini rahasianya ibu. Saya tidak tega menceritakannya, tapi… sekedar mas Andri tahu bahwasanya, non Luna itu adalah anak kandungnya ibu Sri!”. Ujar mbak Susi.
“Apa mbak! Benar yang mbak bilang itu, bagaimana ceritanya mbak?”. Andri menjadi tertarik.
“Sebenarnya bukan saya mau menceritakan aibnya ibu, tapi saya percaya mas Andri orang yang baik. Mungkin dengan ada orang lain yang tahu, masalah ibu Sri ini ada jalan keluarnya, begini mas ceritanya…”. Ujar Susi sambil menarik nafas. Dan mulai menceritakan kejadiannya.
Tiga puluh tahun yang lalu, saat itu umur mbah Sri sudah 35 tahun. Dia merantau ke Jakarta untuk merubah nasibnya. Kebetulan suaminya baru saja meninggal karna penyakit yang dideritanya. Sementara anak dia tidak punya, kata mantri dikampungya di Klaten, mereka tidak akan punya anak, sebab suaminya mbah Sri positif mandul. Kebetulan ada tetangganya yang lagi pulang ke kampung dan mengajak mbah Sri untuk mencoba mencari pekerjaan di Jakarta.
Sesampainya di Jakarta mbah Sri langsung di carikan pekerjaan sama tetangganya itu. Setelah satu minggu tinggal di Jakarta, mbah Sri di tawarkan untuk menjadi pembantu di Apartemen. Ternyata tuan rumah tempat dia bekerja di apartemen tersebut adalah seorang laki-laki bule berkebangsaan dari Inggris. Meski agak susah untuk berbicara bahasa Inggris, tapi orang bule itu bisa berbahasa Indonesia.
Orang bule itu bernama Mr. Orlando, di panggil Mr. Olan. Kebetulan orangnya baik dan sangat menghormati orang lain. Suatu malam, saat pulang dari luar, Mr. Olan nampak punya masalah dan pulangnya dalam keadaan mabuk. Mbah Sri membantu Mr. Olan masuk kekamarnya. Saat itulah mbah Sri di perkosa oleh Mr. Olan. Saat paginya Mr. Olan langsung mendekati mbah Sri dan memintanya untuk menjadi istrinya. Dia juga minta maaf karna kejadian semalam karna terbawa minuman keras.
Ternyata Mr. Olan orang yang bertanggung jawab. Dia langsung mengajak mbah Sri pulang kekampungya untuk melamar mbah Sri ke orang tuanya. Orang tua mbah Sri senang sekali menerima pinangan dari Mr. Olan yang umurnya lebih tua 15 tahun dari anaknya itu. Pernikahan secara sederhana di langsungkan di kampung itu. Setelah melakukan pernikahan, mbah Sri dan suaminya yang orang bule itu kembali ke Jakarta.
Setelah sampai di Jakarta, Mr. Olan memberitahukan ke mbah Sri yang menjadi istrinya sekarang sebuah informasi. Bahwa dia dan istrinya yang tinggal di Inggris sudah bercerai. Karna istrinya disana punya laki-laki simpanan dan mereka sudah menikah. Waktu kejadian malam itu, siangnya dia baru saja menerima surat cerai yang dikirimkan dari istrinya. Makanya dia berani melamar mbah Sri sebab dia tidak mempunyai seorang istri lagi.
Sejak saat itu kehidupan dan gaya hidup mbah Sri berubah total. Perlahan-lahan dia sudah mulai mengikuti gaya metropolitan, setiap ada acara suaminya dia selalu saja diajak untuk mengikuti kegiatan suaminya itu. Tapi meskipun gaya hidupnya berubah dia tetap tidak serta merta menjadi orang sombong dan tinggi hati. Dia selalu menjadi wanita jawa yang lembut dan sangat menghormati dan menyayangi suaminya yang bule itu.
Selang beberapa bulan mbah Sri positif hamil dan dia mengandung anak laki-laki yang setelah lahir bayi itu di beri nama Billy. Kebahagian mbah Sri dan Mr. Olan jadi bertambah. Selang dua tahun kemudian mbah Sri melahirkan bayi perempuan dan di beri nama Luna. Lengkap sudah kebahagiaan yang di dapati mbah Sri. Suami yang sangat menyayanginya dan kedua anaknya yang tampan dan cantik dengan wajah indonya. Suaminya tidak berhenti memanjakan hidupnya, mereka sekeluarga akhirnya pindah dari apartemen itu karna suaminya sudah membeli salah satu rumah yang sangat besar disalah satu daerah terkenal di bilangan jakarta selatan. Mbah Sri merasa kehidupannya sudah cukup dia tidak butuh yang lebih lagi.
Tapi kebahagaian itu tidak bertahan lama, saat kejadian bom yang mengguncang di salah satu hotel terkenal di Jakarta. Posisi suaminya sedang berada disana lagi menghadiri meeting sehingga maut pun menjemput suaminya itu. Mbah Sri sangat terpukul saat kepergian suaminya itu. Tapi dia termasuk wanita yang tegar dan cepat bangkit, dia masih mempunyai dua anak yang harus dia besarkan. Tapi dia bingung dengan tinggal di rumahnya yang sangat besar ini. Sementara pemasukan buat keluarganya tidak ada. Anaknya pun sekolah di tempat yang terkenal. Mbah Sri benar-benar merasa kebingungan. Dia terus memutar otaknya bagaimana caranya dia bisa hidup dengan anak-anaknya itu. Lalu dia menjual rumah yang di beli suaminya itu dan dia membeli sebuah rumah yang sangat sederhana perkampungan di daerah Pondok Aren Tangerang yang kebetulan perbatasan antara Tangerang dan Jakarta.
Anaknya semakin lama semakin dewasa untuk menambah masukkan sehari-harinya dia berjualan gado-gado dan gorengan di perkampungan tersebut. Tapi tetap saja tidak mencukupi untuk biaya sekolah anaknya yang sekolah di sekolahan yang lumayan mahal itu. Dia tidak mau memindahkan anaknya ke sekolah yang biasa. Dia berharap suatu saat anaknya bisa jadi orang yang sukses.
Saat anaknya yang laki-laki sudah dewasa dia mesti menghadapi kenyataan anaknya itu harus menikahi pacarnya yang mengaku di hamili anaknya. Sehingga anaknya menikah dengan pacarnya itu dan tinggal bersama orang tua wanita itu yang seorang pengusaha di Jakarta. Sementara anaknya Luna menjadi seorang model karna dia memiliki wajah yang cantik dan seksi dia juga sering bermain sinetron. Sehingga dia menjadi idola di oleh para penggemarnya terutama dia di kagumi kaum laki-laki yang memuja kecantikan yang dimiliki oleh Luna.
Sementara mbah Sri umurnya semakin lama semakin tua. Karna tidak mau tinggal diperkapungan Luna pun membeli salah satu apartemen dan tinggal disana dengan mengajak ibunya. Tapi meskipun dia tinggal disana mbah Sri jarang sekali bertemu dengan Luna saat dia pulang biasanya teman-temannya sering mane ke apartemennya. Sering sekali temannya berkata kepada Luna ”Pembantu” kepada mbah Sri. Demi menjaga image didepan teman-temannya Luna selalu menjadikan ibunya itu sebagai pembantu. Saat Luna dan teman-temannya pesta di apartemen tersebut terkadang mbah Sri harus membersihkan ruangan itu, meskipun di ruangan itu mereka ada pembantu yang di bayar untuk mengerjakan pekerjaan tersebut.
Melihat ibunya seperti itu Billy sang kakak langsung membawa mbah Sri ke rumahnya untuk tinggal dengannya. Tidak jauh berbeda dari rumah Luna, di rumah Billy pun mbah Sri disamakan dengan pembantunya. Tapi yang melakukan itu bukan Billy melainkan istrinya Billy. Istrinya Billy sangat kejam memperlakukan mbah Sri, saat Billy pulang kerja malam hari, si istrinya Billy menyuruh mbah Sri membuka pintu pagar padahal saat itu sedang hujan deras. Melihat ibunya yang membuka pintu pagar Billy sangat marah dengan istrinya. Namun istrinya lebih galak dari pada Billy. Sebab dia merasa apa yang dia punya itu dia dapati dari keluarga istrinya itu. Karna tidak tahan mbah Sri akhirnya meninggalkan rumahnya Billy dan dia hidup di salah satu kontrakan di kawasan yang padat rumahnya di belakang apartemen yang ditinggali oleh Luna. Dia tidak memilih tinggal di apartemen Luna, karna dia merasa sangat tenang dengan hidup seperti ini. Disana mbah Sri memulai kehidupannya dengan berjualan diarea apartemen dan kampung itu dengan berjualan gorengan dan pecel. Meskipun umurnya sudah tua dan keriput wajahnya semakin mengkerut di wajahnya yang sudah hitam itu dan giginya sudah mulai habis tai dia masih kuat untuk berjualan. Di kontrakannya itu dia hidup bersama Susi gadis kampung yang bekerja di Jakarta sebagai cleaning service di apartemen itu dan tinggal dengan mbah Sri.
Mbah Sri sangat menyesali hidupnya karna anak-anaknya waktu kecil tidak pernah di ajarin secara mendalam tentang agama. Dia merasa mungkin ini hukuman buatnya yang terus memaksa anak-anaknya untuk tidak jadi orang yang melarat. Namun dia salah dan untuk mengulang waktu itu sudah tidak mungkin. Tapi rasa sayang dan cintanya kepada anak-anaknya sangatlah besar. Dia tidak terlalu berharap anak-anaknya memberikan kemewahan buatnya dia ingin melihat anak-anaknya itu bahagia. Makanya setiap hari dia berjualan gorengan di sekitar area apartemen hanya ingin melihat sesekali anaknya Luna lewat atau keluar dari apartemen itu. Namun saat Luna mbah Sri langsung menutup mukanya dengan kain batik yang selalu di pakainya untuk menggendong bakul di bahunya.
Andri baru faham dengan apa yang terjadi di hadapannya sekarang. Dia tanpa sengaja meneteskan airmatanya dengan kejadian yang terjadi dengan mbah Sri, wanita tua ini tidak seharusnya seperti ini hidupnya. Masa tua yang seharusnya da nikmati bersama keluarga dan anak-anaknya ternyata harus menderita. Dia juga tidak menyangka sosok wanita yang anggun Luna yang selalu di puja-puja orang adalah wanita yang tega membiarkan ibunya yang sangat-sangat mencintai anak-anaknya itu.
Malam makin larut Andri tertidur lelap di kursi di depan ruangan rumah sakit itu. Saat dia melepaskan lelahnya hari ini, tiba-tiba dia dibangunin suster Anna yang kebetulan jaga malam itu. Andri langsung terbangun dari kursi dan menyakan apa yang terjadi.
“Ada apa Na ?”. tanya Andri
“Barusan mbah Sri kritis, badannya sangat panas dan sesak nafas. Sekarang dia sudah di bantu dokter untuk menenangkannya”. Ujar Anna sambil duduk di sebelahnya.
“Trus gimana sekarang ?”. Tanya Andri lagi
“Dia sekarang sudah tidur dan sudah tenang, tapi saya takut bakal terulang lagi. Sebab mbah Sri sudah tua, selain dia ada sakit jantung dan asma dia juga tidak oleh stress. Sementara dia sekarang seperti banyak yang di pikirkan”. Ujar Anna
“Yah sudah kamu tenang saja, kita berdoa saja semoga tidak terjadi apa. Kamu istirahat sana sudah malam, besok pagi bangunin aku ya kita shalat subuh bareng ya”. Ujar Andri dengan seuntai senyum yang manis.
Suster Anna langsung beranjak dari tempat itu dan meninggalkan tempat itu. Sementara Andri langsung membaringkan tubuhnya diatas kursi itu lagi. Saat pagi menjelang Andri sudah menunggu suster Anna didepan rumah sakit itu. Mereka berdua langsung pulang kerumah mereka dan setelah mengantar suster Anna terlebih dahulu kerumahnya.

***

Sore harinya Andri sudah janjian dengan suster Anna untuk mengantarnya kerja lagi. Setelah menjemput Anna dia langsung menuju ke arah kuningan untuk mengantarkan Anna bekerja karna dia masuk malam sekalian dia ingin melihat keadaan mbah Sri di rumah sakit. Sesampainya mereka di rumah sakit Andri langsung menuju keruangan dimana mbah Sri di rawat sementara Anna pergi keruangannya untuk bersiap-siap untuk bekerja.
Saat Andri sampai depan pintu dia melihat Susi lagi menangis sesenggukan di depan pintu kamar dimana mbah Sri di rawat.
”Mbak Susi Kenapa Menangis ?”. Tanya Andri
”Didalam ada non Luna sama tuan Billy. Aku sangat bahagia mereka menjenguk orang tuanya”. Ujar Susi sambil mengelap mukanya dengan bajunya yang basah karna airmata.
Andri mengintip dari balik pintu dan dia ikut meneteskan airmatanya saat melihat kebahagian dan senyum yang tergambar dibibir mbah Sri. Andri mengetuk pintu dan masuk kedalam, mbah Sri tersenyum melihat Andri yang langsung masuk dan menyalami mbah Sri dan mencium tangannya yang sudah tua itu. Luna langsung mendekati Billy dan mengucapkan terima kasih kepada Billy karna telah membantu ibunya.
Entah kenapa tiba-tiba mbah Sri asmanya kambuh lagi. Tapi ekspresi mukanya tetap tersenyum kepada anak-anaknya itu. Dokter langsung masuk dan memeriksa badannya mbah Sri. selang beberapa menit dokter keluar bersama suster dan menyuruh anaknya masuk. Luna langsung masuk dan Andri melihat Luna menangis diatas tubuh mbah Sri. suster Anna langsung menghampiri Andri dan mengajaknya agak menjauh dari sana supaya tidak mengganggu yang lain.
”Ada apa Na, apa yang terjadi dengan mbah Sri !”. Andri sangat kuatir dengan apa yang terjadi.
“Mbah Sri sudah meninggal”. Ujar suster Anna.
Andri tidak bisa berkata apa-apa lagi, air matanya mengalir dari matanya. Suster Anna langsung memeluk badan Andri yang kaku seperti patung itu. Andri juga tidak tahu harus berbuat apa dan dia tidak menyangka kejadian ini sangat cepat sekali sebab dia mengira senyumnya mbah Sri tadi adalah pertanda dia akan baikan dan sehat. Tapi itu ternyat senyumnya yang menyambut karna masalahnya didunia sudah selesai. Dia sangat senang pergi dari dunia ini.
Luna dan Billy sibuk mengurus jenazah ibunya. Setelah ibunya di kuburkan. Susi yang biasa bersama mbah Sri mendatangi Luna yang lagi duduk di sebelah Billy.
“Ada apa mbak Susi ?”. Ujar Billy
“Ini tuan Billy dan non Luna, dari jauh-jauh hari mbah Sri sudah titip pesan ke saya untuk memberikan sesuatu ke tuan dan non Luna jika dia sudah meninggal”. Ujar Susi sambil menyerahkan kotak kecil yang terbungkus saputangan yang sudah lusuh. Saat dibuka ternyata didalam kotak kecil yang terbuat dari kaleng bekas biskuit itu ada beberapa perhiasan dan buku deposito atas nama Luna dan Billy yang sudah disiapkan suaminya Mr. Orlando untuk anak-anaknya itu. Dan deposito itu juga sudah ditambahkan mbah Sri saat dia menjual rumahnya dahulu. Sehingga jumlah nominal untuk kedua deposito itu melebihi dari satu miliar dan itu belum termasuk bunganya.
Luna dan Billy saling pandang dengan kenyataan yang terjadi ini. Luna terus menangis dan berpelukan dengan kakaknya itu. Hari sudah makin siang Andri dan suster Anna berpamitan untuk pulang. Susi yang biasa menjaga mbah Sri sekarang di ajak Luna untuk tinggal bersamanya. Sementara Andri dan suster Anna menjadi sepasang kekasih dan selang beberapa bulan kemudian mereka menikah. Pernikahan yang sangat menghebohkan karna perkawinannya didatangi seorang artis yang lagi diidolakan banyak orang dan cantik itu. Perkawinan mereka itu lebih mengejutkan lagi karna Luna dan Billy memberikan kado buat mereka berdua itu sebuah rumah atas nama Andri. Andri sangat senang sekali berkat dia membantu mbah Sri dia menemukan Anna yang sekarang telah menjadi istrinya. Mungkin ini balasan dari tuhan karna dia telah berbuat kebaikan membatu mbah Sri dengan ikhlas. Dia sangat percaya tuhan akan membalas kebaikan umatnya yang selalu berbuat baik di dunia ini.

SEKIAN

Punahnya Permainan Waktuku Kecil

Punahnya Permainan Waktuku Kecil

Aku lahir di sebuah desa yang sangat damai namanya desa Tanah Abang kec Batang Hari Leko - Musi Banyuasin di Palembang-Sumatera Selatan. Setiap hari aku selalu bermain dengan teman-teman kecilku. mulai dari tang-tang duku ( kalo di sini terkenal uler naga panjang), maen shen (sejenis petak umpet, jika ada yang terlihat kita sebut nama yang sembunyi lalu kita pukul kaleng sebelum ditendang kalengnya biar tidak kalah lagi), kalau malem kita maen yasud (sama juga sama petak umpet Cuma kalo yang ini kita bergroup, satu group bisa sampai 5-7 orang anak laki atau perempuan, yang kalah mesti jaga tiang, sebelum yang menang pegang pagenag dan gol biar tidak kalah lagi. untuk permainan ini terkadang kita mesti lari-lari sampai kedalam hutan buat sembunyi, jika kita gol, kita dapat garukan di tangan kita dari yang kalah dan yang kalah tadi jaga lagi).

permainan yang unik yaitu main patung-patung, cara bermainnya kita rame-rame nyanyi seperti ini (satu kutu, dua kaki kuda, tiga mentega, empat ketupat, lima delima, enam tanaman, tujuh kacang iju (iju= ijo), delapan papan, sembilan bulan, sepuluh jadi patung). semuanya diam seperti patung dan siapa yang gerak dia yang kalah dan harus mendekat patung itu sama yang jadi patung lain dan kalau bergerak juga kalah.

permainan seru yaitu kucing-kucing bute (buta), setelah hompimpah yang kalah matanya ditutup sama kain, lalu kita keliling yang ditutup matanya itu sambil nyanyi (kucing-mucing bute, makan calok tige matek, artinya kucing-kucing buta makan terasi tiga ons). setelah tiga kali nyanyi lagu itu. yang ditutup matanya mencari kita yang sedang duduk mengelilinginya. setelah dapat satu, yang ditutup matanya meraba-raba teman yang kita pegang itu supaya dia tertawa atau bersuara dan kita tau namanya. setelah di sebutin namanya yang di sebut itu kalah dan gantian jaga.

Itu hanya sebagian permainan yang sering aku mainkan bersama teman-teman waktu kecil dulu. Masih banyak permainan yang selalu kita mainkan. Setelah aku dewasa dan aku pulang kekampungku. Dimana di depan rumahku selalu ramai anak-anak kecil yang bermain, setelah jam sekolah sampai jam malam masih ramai depan rumah. Sekarang sepi… semua anak-anak setelah pulang sekolah langsung masuk rumah dan menyalakan televisi, main playstation, nonton DVD. Setiap hari itu yang mereka lakukan.

Makin lama makin hilang permainan waktu aku kecil, hilang bahkan mereka tidak tahu saat kita sebutkan permainan tersebut. Permainan yang tidak bisa terlupakan sampai sekarang, permainan yang mengajak kita untuk bisa bersosialisasi mendapatkan banyak teman, permainan yang juga mengajak kita untuk pentingnya arti suatu kerjasama. Semuanya punah terkikis permainan arus zaman yang di jejali oleh permainan elektronik yang mana masyarakat kita hanya bisa menikmati tanpa berusaha untuk menciptakan permainan itu.

Hompimpah alaikum gombreng, nek minah makai baju rombeng, makannya piring kaleng, tak habis kena tempeleng. Aku rindu suara nyanyian ini 

Sudahkah Kamu Shalat Hari Ini

Alkapuccino // 21 - 999 45 898
, &
kodrialkap@rocketmail.com

“Harga yang termahal adalah detik2x yang baru saja terlewati”